Menjadi fans Arsenal F.C. itu kadang bukan soal trofi. Tapi soal bertahan ketika dunia lain memilih pergi. Ada orang-orang yang tumbuh bersama malam dingin Emirates, bersama harapan yang selalu “mungkin tahun depan”, bersama rasa percaya bahwa mencintai sesuatu tidak harus selalu dibayar kemenangan. Dan mungkin di situlah letak romantisnya.
Arsenal mengajarkan satu hal yang jarang dimiliki banyak klub modern: kesabaran. Tentang bagaimana orang-orang tetap datang, tetap bernyanyi, bahkan ketika musim terasa berat. Karena bagi sebagian fans, Arsenal bukan sekadar klub sepak bola. Ia seperti rumah yang selalu punya ruang untuk pulang, bahkan setelah berkali-kali kecewa.
Mungkin itu sebabnya banyak fans Arsenal terlihat berbeda. Mereka terbiasa diejek, dibandingkan, diragukan. Tapi justru karena itulah loyalitas terasa lebih nyata. Sebab cinta yang mudah menang biasanya hanya melahirkan penonton. Sedangkan cinta yang ditempa penantian, melahirkan keluarga.
Dan anehnya, semakin lama mendukung Arsenal, semakin kita sadar bahwa yang dicari bukan hanya kemenangan di papan skor. Tapi rasa memiliki. Rasa bahwa di tengah dunia yang berubah cepat, masih ada sesuatu yang kita bela tanpa alasan yang benar-benar logis.
Karena pada akhirnya, menjadi fans Arsenal itu seperti mencintai senja:
tidak selalu terang, tidak selalu menang, tapi selalu punya alasan untuk ditunggu.
— Myra Senja