Aku lahir di kota kecil yang bahkan sering tidak dianggap di peta.
Kotanya tidak ramai. Jalannya sempit. Sore harinya selalu dipenuhi suara motor pulang kerja dan langit oranye yang jatuh pelan di atas sawah.
Masa kecilku biasa saja.
Tidak terlalu bahagia, tapi juga tidak cukup buruk untuk diceritakan sebagai luka. Aku tumbuh di rumah yang sederhana, dengan banyak diam yang tidak pernah benar-benar dibahas.
Sedari kecil aku bukan anak yang pandai memulai percakapan.
Aku lebih suka duduk dekat jendela kelas, menggambar di buku belakang, atau pura-pura melihat keluar padahal sebenarnya sedang sibuk dengan isi kepala sendiri.
Entah kenapa aku selalu suka senja.
Mungkin karena senja tidak pernah memaksa siapa pun untuk terlihat kuat. Langit sore selalu datang dengan warna yang indah, tapi sekaligus membawa gelap perlahan-lahan.
Dan anehnya, aku merasa mirip seperti itu.
— Myra Senja