Ada fase di hidup ketika tempat paling nyaman bukan rumah.
Tapi kursi plastik depan minimarket.
Malam itu aku duduk sendiri sambil memegang kopi sachet yang sebenarnya sudah dingin dari tadi. Jalanan masih ramai, motor lalu-lalang, lagu dari dalam minimarket terdengar pelan bercampur suara mesin pendingin yang entah kenapa terasa akrab.
Di sebelahku, ada dua anak kuliahan lagi ketawa keras soal hal random yang mungkin besok juga lupa. Di pojokan parkiran, seorang abang ojek online tidur sambil duduk dengan helm masih dipakai. Dan di depan pintu otomatis itu, orang-orang datang dan pergi seperti hidup yang nggak pernah benar-benar berhenti.
Aku suka suasana seperti itu.
Nggak terlalu sepi.
Tapi juga nggak bikin merasa sendirian.
Kadang di umur segini, manusia cuma butuh tempat untuk diam tanpa ditanya:
“Kamu kenapa?”
Dan anehnya, minimarket 24 jam sering jadi tempat paling jujur untuk itu.
Tempat orang-orang singgah sebentar sebelum kembali menghadapi hidupnya masing-masing.
Ada yang habis lembur.
Ada yang baru pulang kerja.
Ada yang sengaja muter malam karena belum siap pulang ke rumah.
Termasuk aku.
Aku melihat pantulan diri sendiri di kaca minimarket. Wajah lelah, mata kurang tidur, dan pikiran yang beberapa bulan terakhir terasa terlalu ramai.
Lucu ya.
Dulu waktu kecil aku kira dewasa itu soal kebebasan.
Ternyata lebih banyak tentang belajar menyembunyikan capek sambil tetap bilang:
“Aku nggak apa-apa.”
Malam makin larut.
Seorang pegawai minimarket keluar sebentar buat buang sampah lalu bilang:
“Hujan kayaknya bentar lagi turun.”
Aku cuma mengangguk pelan.
Dan untuk beberapa menit setelah itu, aku duduk diam sambil melihat jalanan yang mulai basah oleh gerimis kecil.
Kadang hidup memang seaneh itu.
Kita mencari ketenangan ke tempat yang lampunya terlalu terang, kopinya murah, dan kursinya nggak pernah benar-benar nyaman.
Tapi entah kenapa… rasanya tetap sulit untuk pergi.
— Myra Senja