Ada fase di umur tertentu ketika notifikasi bisa mengubah suasana hati seseorang.
Dan lucunya, aku pernah sebodoh itu.
Malam itu jam menunjukkan pukul 00.17. Kota sudah lebih tenang, kendaraan mulai jarang terdengar dari jendela apartemen, dan aku masih duduk di pinggir kasur sambil menatap layar WhatsApp yang dari tadi nggak berubah.
“online 23.48”
Setelah itu hilang.
Aku membaca ulang chat terakhirku untuk kesekian kali.
Padahal isinya biasa saja.
Tidak ada kalimat marah.
Tidak ada drama.
Tidak ada tuntutan.
Cuma:
“Hati-hati ya kalau pulang malam.”
Sederhana.
Tapi semakin lama tidak dibalas, kalimat sederhana bisa berubah jadi ribuan kemungkinan di kepala.
Mungkin dia ketiduran.
Mungkin sibuk.
Mungkin lupa.
Atau mungkin… memang tidak ingin membalas.
Yang paling melelahkan dari dewasa ternyata bukan kehilangan seseorang.
Tapi ketika kita mulai sadar:
tidak semua rasa akan mendapat jawaban.
Aku membuka Instagram hanya untuk mengalihkan pikiran. Scroll tanpa benar-benar melihat apa-apa. Orang-orang terlihat bahagia malam itu. Ada yang nongkrong, ada yang anniversary, ada yang upload foto langit sambil caption tentang rumah.
Sedangkan aku sibuk menunggu satu balasan chat yang bahkan mungkin tidak penting bagi orang lain.
Lucu ya.
Kadang kita bisa terlihat baik-baik saja di luar, padahal di dalam kepala sedang ribut sendiri.
Jam 01.26.
Layar HP masih sepi.
Aku akhirnya mematikan lampu kamar dan merebahkan diri pelan. Suara AC terdengar monoton. Dari luar jendela, lampu gedung apartemen lain masih menyala satu-satu seperti orang-orang yang juga belum bisa tidur karena pikirannya masing-masing.
Lalu tiba-tiba HP-ku menyala.
Satu notifikasi masuk.
Dadaku refleks berdebar.
Tapi ternyata cuma promo makanan.
Dan anehnya, malam itu aku malah tertawa kecil.
Karena akhirnya aku sadar…
yang membuat seseorang lelah bukan chat yang tidak dibalas.
Tapi harapan kecil yang terus hidup setelahnya.
— Myra Senja